Kamis, 08 Januari 2015

FF War of God - Part 2


PART 2
Tokk…Tokk…
Walter putra Hermes,Dewa pembawa pesan masuk ke dalam ruangan dengan gulungan kertas di tangannya. Walter segera memberikan gulungan kertas itu pada Mr.Freeman. “Sir,Ayahku mengirimi ini untukmu…”
Mr.Freeman segera membukanya,dan benar dugaannya tentang apa isi gulungan kertas itu. Mr.Freeman segera menunjukan kertas itu kepada empat orang di depannya. Itu adalah peta. Sam maju ke depan dan memindai sebentar,”Tunggu-tunggu…bagaimana bisa Hermes mengirim itu pada Walter? Sir mengatakan bahwa di langit dewa tanpa kekuatan!” Pertanyaan yang cukup bagus.
“Itu karena ayahku adalah Dewa pembawa pesan,dia adalah Hermes! Kau lupa? Dia bisa mengantarkan pesan melalui apa saja! Merpati,amplop terbang dan sebagainya.” Walter membela ayahnya.
“Mr.Freeman,bagaimana bisa Hermes mendapatkan ini? Bagaimana ia tahu lokasi 12 mutiara itu?” Tanya Prim penasaran. Sedangkan Steve masih memperhatikan lokasi yang terdapat dalam peta itu dan menghitungnya, satu,dua,tiga…
“Sir! Ada 12 mutiara yang hilang,namun disini ada 15 tempat yang di lingkari!” Steve sangat yakin dengan yang ia ucapkan.
“Hermes juga tidak tahu dimana lokasi pasti beradanya,jadi ia memperkirakan tempat itu.” Jawab Mr.Freeman tanpa keraguan.
“Hoamm,” Sam menguap membuat orang di sekitarnya menatapnya,”Aku mengantuk. Ini sudah malam,aku akan mencari mutiara itu mulai besok. Jadi,biarkan aku tidur dengan nyaman untuk malam ini.” Sam memberi alasan.
“Kau benar! Ini sudah malam,kalian pergilah ke kamar asrama kalian!” Ucap Mr.Freeman yang mengasihani keempat orang ini,”Sam,aku berharap banyak padamu. Jangan mengecewakan kami,dan gulungan peta ini…aku akan memberikan tanggung jawab untukmu.” Mr.Freeman memberikan gulungan peta itu,Sam menerimanya. Kelima orang itu keluar dari ruangan.
Sam meregangkan ototnya,”Walter,Let’s go!” Ucap Sam menatap Walter. Mereka berdua tidur bersama dalam satu kamar. Ya,di perkemahan ini terdapat asrama half-blood. Dan di setiap ruangan kamar terdiri dari dua orang.
“See Ya,Sam!” Prim menepuk pundak Sam sebelum kembali ke kamarnya bersama Blue.
***
Para Demigods berkumpul pagi hari ini di depan pintu masuk utama,para guru juga berada di sana,seolah mereka semua ingin memberi salam perpisahan terakhir. Blue,Prim,Steve dan Sam sudah siap dengan perlengkapan mereka.
Sam menggunakan jaket anti air yang hangat dengan tasnya yang juga anti air,nampaknya mereka berempat menggunakan pakaian yang seragam. Tapi tunggu! Ada yang berbeda dengan Prim,ia sudah membuka payungnya dan menaruhnya di bahunya.
Di luar di penuhi dengan petir yang menggelegar dan hujan badai. “Kalian,setelah kalian keluar dari tempat ini. Kalian akan merasakan apa yang di rasakan manusia normal beberapa hari terakhir,jadi jangan terkejut dengan keadaan bumi yang sekarang!” Mr. Freeman mengingatkan dengan mengetuk-ngetuk tongkatnya ke udara. Keempat orang itu menganggukan kepala.
“Kembalilah dengan selamat,Guys!” Walter berteriak sambil melambaikan tangannya.
“Jagalah perkemahan ini dengan baik,Walter!” Ucap Sam sambil tersenyum.
“Ah tunggu!” Walter mengangkat jari telunjuknya ke udara,”Hermes,Ayahku… dia mengatakan bahwa akan ada demigod yang mengawasi kalian,dia adalah pencuri mutiara itu. Jadi kalian harus berhati-hati.”
“What?” Mulut Sam terbuka karena terkejut,”B-bagaimana bisa kau mengatakan hal ini sekarang? Dia,dia—” dengan cepat Steve yang berada di sampingnya segera membengkap mulut Sam dengan telapak tangannya.
“Kami akan pergi sekarang!” Steve menundukan kepalanya bersama dua gadis di belakangnya. Ia menyeret agar Sam segera pergi dari tempat ini sebelum berubah fikiran. Keempat orang itu membalikan tubuhnya berjalan lurus,mereka sudah berada di gerbang utama,keempat orang itu menatap kawan-kawannya lagi sambil melambaikan tangannya dan berbalik keluar dari tempat ini.
BLUSHHH!
Tubuh mereka basah terkena air hujan,Prim terus mempertahankan payungnya dari kencangnya angin,Swinggg~ karena tanganya yang tidak kuat saat memegang,payung itu akhirnya terbang membuat Prim basah terkena hujan.
Sam menghampirinya dan segera memakaikan kupluk jaket Prim dengan paksa,”Cepatlah,kita harus pergi ke jalan raya untuk mencari taksi!” Sam terus berjalan tidak peduli dengan kencangnya angina,derasnya hujan dan gelegar petir yang berada di tempat ini. Ketiga orang di sampingnya berusaha menyamai langkahnya. “Tunggu,apa kalian sudah tahu mengenai hal ini?” Sam bertanya membuat semua orang di dekatnya menatap tajam.
“Tentang apa?” Steve bertanya.
“Itu… demigod pembuat masalah itu mengintai kita,bagaimana jika dia tidak sendiri? Bagaimana jika dia membawa pasukan? Bagaimana jika kekuatannya melebihi kekuatanku? Siapa dia?” segelintir pertanyaan muncul di benak Sam.
“Itu adalah perjanjian dewa. Hermes menyuruh anak buahnya untuk mengintai aktivitas yang mencurigakan,lalu jika sudah menemukan orang itu,orang suruhannya akan memberitahu lokasi itu dengan syarat pengintaian.” Blue menjelaskan.
“Kenapa tidak saat itu juga Hermes membunuhnya? Atau setidaknya membawa orang itu pada Zeus!”
“Sayangnya orang suruhan itu sudah mati setelah informasi di tangan Hermes,Pelaku pasti selalu membunuhnya. Selalu terjadi hal seperti itu…”Blue melanjutkan.
“TAKSI!” Prim menjulurkan tangannya membuat siku-siku,mobil kurning yang tidak terlalu besar itu segera berhenti. Semua orang masuk dengan perlahan.
Sam duduk di samping supir,dan tiga temannya duduk di kursi belakang. Sam membalik tasnya menaruhnya di atas kakinya,ia membuka tasnya dan mengambil gulungan peta yang sebelumnya di berikan pada Mr.Freeman. “Tujuan pertama kita adalah National Gallery of Art,Washington DC.” Ucap Sam. Sedang supir itu mengangguk mengerti.
Prim merebut paksa gulungan peta tersebut,”New york! Itu kota terdekat setelah Las Vegas.”
Taksi yang mereka tumpangi berhenti mendadak,terjadi kemacetan di Kota Washington DC,padahal jarak mereka dengan Museum itu hanya tinggal 500 meter lagi, “Sepertinya kalian harus menunggu lama.” Ujar Supir taksi itu.
“Oh,This is Washington DC!” Steve geram dengan kemacetan.
“Mr. kenapa kemacetan ini terjadi?” Blue bertanya. Ia melihat dari dalam mobil hanya hujan,awan hitam di sertai gelegar petir dan bunyi klakson mobil.
“Sudah beberapa hari ini sering terjadi badai.” Jawabnya dengan santai.
“Kami berhenti disini saja,bisa kau tunjukan arah Museum Gallery of Art?” Tanya Blue dengan ramah.
“Kau hanya perlu berjalan lurus 300 meter lalu belok ke kanan 200 meter,disana kau bisa sampai di tujuanmu. Biayanya 16,6 dolar.” Blue mengeluarkan dompetnya dan memberikan sejumlah uang. Ia sudah membuka pintu taksi dan berada di luar,namun ketiga temannya masih duduk rapih di dalam.
“Kita harus memanfatkan waktu dengan baik! Ayolah,lagi pula sejak awal kita sudah basah,dan akan terus basah…” Blue membujuknya. Mau tak mau semua temannya turun dan segera berlari menuju jalur pejalan kaki.
Sam memasang kupluk pada jaketnya,”Oh! Kenapa para Dewa harus menumpahkan kesalahan mereka pada manusia yang tak bersalah??!!” ia berdecak kesal sepanjang jalan.
Sepasang mata memperhatikan Sam bersama ketiga temannya,Pria berumur 19 tahun dengan pakaian hitamnya itu mengangkat jari telunjuknya dan mengarah pada Pohon raksasa di pinggir jalan,BRUKK! Pohon akhirnya tumbang,Pria itu tersenyum dengan puas. Harry Edward Styles,Putra dari Prometheus,Salah satu Titan yang pernah di hokum oleh Zeus.
Harry memasang kembali topinya dan pergi dari tempat itu.
Keempat orang itu jengkel dengan keadaan sekarang,pohon tumbang di depannya dan hampir membahayakan nyawanya. Dua mobil sudah menjadi korban atas peristiwa ini. Sam dan yang lainnya harus memutar jalan.
Keempat orang itu akhirnya sampai di depan gerbang Museum yang menjulang tinggi itu,perjalanan setelah satu jam di tengah badai berjalan kaki. “Ayolah,kita disini bukan untuk memandangi Museum ini dari luar!” Steve menepuk pundak Sam. Mereka memutuskan untuk kedalam.
Mereka menaruh tas mereka di tempat pemeriksaan,sebenarnya tidak boleh datang dengan keadaan kuyuh seperti ini. Namun para penjaga mengerti mengapa sebagian pengunjung menjadi basah seperti ini,alhasil setiap pengunjung di berikan handuk sembari menikmati keindahan isi Museum ini.
Prim,Sam serta Steve masih berdiri di dekat pintu masuk. Sedangkan Blue terus berjalan dengan handuk yang sedang mengeringi rambutnya. Sesuatu menarik perhatian Blue,Ia membulatkan matanya. “ITUU…”
=== TBC ===

Tidak ada komentar:

Posting Komentar